Barcode ditambahkan ke PDF dengan membuka QR Code & Barcode ke PDF, mengunggah berkasnya, lalu meletakkan kode pada halaman yang diinginkan. Tool ini menyisipkan kode QR atau barcode Code 128 berisi teks atau tautan, dan isi kodenya bisa sampai 1000 karakter. Kode diletakkan pada satu halaman saja per proses, dan posisinya digeser langsung di pratinjau.

Barcode Code 128 adalah kode batang satu dimensi: deretan garis vertikal dengan lebar berbeda yang dibaca mesin pemindai dari kiri ke kanan. Bentuknya memanjang, berbeda dari QR yang berbentuk kotak dua dimensi. Karena itu, barcode lebih cocok untuk nomor pendek dan ruang yang sempit memanjang, misalnya label berkas atau nomor registrasi di bagian bawah surat.

Satu hal yang perlu diperiksa sebelum mencetak: isi kode dibaca pemindai apa pun, jadi kodenya harus benar-benar berisi data yang Anda maksud. Periksa tautan atau nomor yang dimasukkan sebelum dicetak, karena kode yang salah cetak hanya bisa diperbaiki dengan mencetak ulang.

Kapan barcode dipakai dan kapan QR lebih tepat

Barcode dipakai saat data yang dikodekan pendek dan ruang yang tersedia berbentuk memanjang. Nomor berkas, kode inventaris, nomor registrasi surat, atau nomor urut dokumen adalah contoh yang cocok. Pemindai barcode satu dimensi membaca deretan angka dan huruf pendek dengan cepat, dan kode jenis ini lazim di lingkungan kerja yang memakai alat pemindai khusus.

QR lebih tepat saat isinya panjang atau berupa tautan. QR berbentuk kotak, sehingga muat di ruang yang sempit ke samping, dan ukurannya bisa dibuat kecil tanpa kehilangan kemampuan baca. Untuk tautan verifikasi, halaman web, atau teks yang panjang, QR adalah pilihan yang lebih masuk akal. Pemakaian QR untuk verifikasi dokumen dibahas terpisah di kelompok ini.

Ada juga soal alat pembacanya. Barcode satu dimensi dibaca dengan pemindai garis, sedangkan QR dibaca dengan kamera biasa, termasuk kamera ponsel. Kalau yang akan membaca kodenya adalah petugas dengan alat pemindai di gudang atau loket, barcode lebih sesuai. Kalau yang akan membaca adalah orang umum lewat ponsel, QR lebih praktis.

Langkah menambahkan barcode ke PDF

  1. Siapkan isi kodenya lebih dulu. Tulis teks atau tautannya di catatan terpisah supaya bisa diperiksa dua kali sebelum dimasukkan.
  2. Buka QR Code & Barcode ke PDF dan unggah berkasnya.
  3. Pilih jenis kode batang yang diinginkan, lalu masukkan isinya. Panjang isi mengikuti kebutuhan, sampai 1000 karakter.
  4. Atur lebarnya. Ukuran 35 mm nyaman dipindai dari layar atau kertas A4, dan angka itu bisa dipakai sebagai titik awal.
  5. Geser kode di pratinjau ke posisi yang diinginkan pada halaman.
  6. Jalankan prosesnya, lalu unduh hasilnya.
  7. Buka berkas hasilnya dan uji kodenya dengan pemindai atau kamera sebelum berkas dicetak atau dikirim.

Poin pertama terlihat sepele, tetapi sering menjadi sumber kesalahan. Kode yang salah isi tidak bisa diperbaiki dari tampilannya, karena kode itu hanya gambar dari data yang dimasukkan. Menyiapkan isinya lebih dulu memungkinkan pemeriksaan kedua sebelum kode dicetak.

Mengatur lebar dan posisi barcode

Lebar kode diatur, dan tinggi barcode mengikuti proporsi yang sesuai. Semakin lebar kodenya, semakin lebar pula ruang yang ditempati di halaman. Untuk dokumen yang sempit, kode bisa dibuat lebih kecil, tetapi jangan sampai terlalu kecil untuk dipindai.

Ukuran 35 mm adalah titik awal yang nyaman untuk pemindaian dari layar atau kertas A4. Kalau kode akan dicetak di kertas kecil atau ditempel pada label yang sempit, ukurannya bisa disesuaikan, dan sebaiknya diuji dulu dengan pemindai yang akan dipakai.

Posisinya digeser langsung di pratinjau. Letakkan kode di area yang tidak menutupi teks penting dan tidak terlalu dekat dengan tepi halaman. Kode yang berada di luar area cetak akan terpotong saat dicetak, dan kode yang terpotong tidak bisa dibaca.

Satu halaman per proses

Kode diletakkan pada satu halaman saja dalam satu proses. Kalau dokumennya berisi banyak halaman dan setiap halaman perlu kode, prosesnya diulang untuk setiap halaman. Cara ini memang menambah langkah, tetapi memberi keuntungan: setiap halaman bisa diberi kode yang berbeda, misalnya nomor unik per lembar.

Untuk dokumen yang perlu kode berbeda di setiap halaman, siapkan daftar isi kode lebih dulu. Tulis pasangan halaman dan isinya dalam catatan, lalu kerjakan satu per satu. Cara ini mencegah kode tertukar antar halaman, kesalahan yang sulit terlihat setelah dokumen selesai.

Kalau dokumennya perlu digabung dengan berkas lain setelah diberi kode, kerjakan penggabungan dengan Gabung PDF. Perlu diingat bahwa penggabungan tidak mengubah isi kode, jadi urutan halaman yang baru tidak memengaruhi data di dalam kodenya.

Menguji barcode sebelum dicetak

Uji pindai bukan langkah opsional. Kode yang terlihat jelas di layar belum tentu terbaca, dan kode yang tidak terbaca baru ketahuan saat dokumen sudah dicetak banyak.

Tiga hal yang perlu diuji. Pertama, apakah kode terbaca oleh pemindai yang akan dipakai sehari-hari, bukan hanya oleh kamera ponsel. Kedua, apakah hasil bacaannya persis sesuai dengan isi yang dimasukkan, tanpa karakter yang hilang. Ketiga, apakah kode masih terbaca setelah dicetak di kertas yang akan dipakai, karena kertas bertekstur atau printer dengan tinta tipis bisa menurunkan mutu cetaknya.

Kalau kodenya berupa tautan, buka tautan hasil pemindaian di peramban dan pastikan halamannya benar. Tautan yang salah huruf akan mengarah ke halaman yang tidak ada, dan kesalahan itu tidak terlihat dari bentuk kodenya.

Barcode pada dokumen hasil pindai

Dokumen hasil pindai tetap bisa diberi barcode. Kode ditempatkan sebagai lapisan tambahan di atas halaman, sehingga lapisan teks di berkasnya tidak diperlukan. Yang tidak bisa dilakukan pada berkas hasil pindai adalah menyunting isinya, karena teks yang terlihat adalah bagian dari gambar halaman. Alur pembuatan berkas seperti itu dibahas di Cara Membuat PDF dari Hasil Scan.

Perlu diperhatikan juga warna latar di sekitar kode. Barcode paling andal dibaca di atas latar terang dengan garis gelap. Pada hasil pindai yang latarnya gelap atau berbayang, garis-garis kode bisa sulit dibedakan. Untuk halaman seperti itu, pertimbangkan menambahkan bidang terang di belakang kode, atau cetak kodenya di halaman terpisah.

Masalah yang sering terjadi

Barcode tidak terbaca pemindai. Ukurannya terlalu kecil, atau kodenya tercetak dengan tinta yang terlalu tipis. Perbesar lebarnya, lalu uji lagi dengan pemindai yang akan dipakai. Untuk dokumen yang akan dicetak, uji pada kertas yang sama.

Hasil pemindaian tidak sesuai isi yang dimasukkan. Isi kodenya salah sejak awal, atau ada karakter yang tidak terbaca karena kode terpotong. Periksa isinya dan pastikan seluruh kode berada di dalam area cetak.

Kode terpotong di tepi halaman. Posisinya terlalu dekat dengan tepi, atau berada di luar area cetak. Geser kode ke arah tengah halaman, lalu periksa hasilnya di pratinjau cetak.

Kode menutupi teks penting. Posisi kode perlu digeser. Letakkan kode di margin atau di area kosong halaman, dan pastikan tidak ada isi dokumen yang tertutup.

Kode hanya muncul di satu halaman padahal diperlukan di banyak halaman. Satu proses menangani satu halaman. Ulangi tool ini untuk setiap halaman yang memerlukan kode, dengan isi yang sesuai untuk masing-masing.

Berkas menjadi lebih besar setelah kode ditambahkan. Kode yang disisipkan menambah data ke berkas. Kalau ukurannya melewati batas penerima, kecilkan lewat Kompres PDF setelah semua kode terpasang.

Kapan sebaiknya tidak memakai tool online

Kalau dokumennya memuat data pribadi lengkap, laporan keuangan, atau bahan perusahaan yang belum boleh keluar dari jaringan kantor, sisipkan barcodenya dengan aplikasi yang berjalan di komputer sendiri. Berkas yang lewat tool ini tidak disimpan permanen, tetapi ia tetap meninggalkan perangkat selama proses berlangsung. Keterangan lengkapnya ada di kebijakan privasi.

Kalau dokumennya memerlukan kode yang jumlahnya sangat banyak dan isinya dihasilkan otomatis, membuat kode lewat aplikasi yang bisa membaca daftar data akan jauh lebih hemat waktu. Tool ini cocok untuk jumlah halaman yang terbatas dan kode yang disiapkan satu per satu.

Pertanyaan yang sering muncul

Apa bedanya barcode Code 128 dan QR code? Barcode Code 128 berbentuk deretan garis memanjang dan dibaca dari kiri ke kanan, sedangkan QR berbentuk kotak dua dimensi. Barcode cocok untuk nomor pendek, dan QR cocok untuk tautan atau teks yang lebih panjang.

Apakah barcode bisa ditambahkan ke halaman tertentu saja? Bisa. Kode diletakkan pada satu halaman dalam satu proses, dan posisinya digeser di pratinjau. Untuk halaman lain, ulangi prosesnya.

Berapa lebar barcode yang nyaman dipindai? Ukuran 35 mm nyaman dipindai dari layar atau kertas A4. Angka itu bisa dipakai sebagai titik awal, lalu disesuaikan dengan ukuran kertas dan alat pemindai yang dipakai.

Apakah isi barcode bisa diperiksa tanpa pemindai? Bisa, dengan aplikasi pembaca barcode di ponsel. Meski begitu, uji dengan alat pemindai yang akan dipakai sehari-hari tetap dianjurkan, karena hasilnya bisa berbeda.

Apakah barcode ikut tercetak saat dokumen dicetak? Ikut, karena kode disisipkan ke halaman sebagai bagian dari tampilan. Periksa hasilnya di pratinjau cetak untuk memastikan kodenya tidak terpotong.

Setelah barcode terpasang

Buka QR Code & Barcode ke PDF untuk mulai menambahkan kode. Kalau berkasnya perlu disatukan dengan dokumen lain setelah diberi kode, satukan dengan Gabung PDF. Kalau ukuran berkasnya bertambah, kecilkan lewat Kompres PDF.

Peta lengkap pekerjaan menyunting PDF, dari teks dan cap sampai area, ada di Mengedit PDF: Teks, Cap, dan Area. Untuk urusan menggabung dan menyusun halaman, lihat Mengatur Halaman PDF. Semua topik PDF dimulai dari Panduan PDF.