Latar putih foto produk dibuat dari tiga hal: bidang putih yang benar-benar rata, jarak antara produk dan latar, serta cahaya yang jatuh merata. Yang paling sering gagal bukan pemilihan alat, melainkan pencahayaan. Latar yang tampak putih di mata bisa terlihat abu-abu di foto karena kamera menyesuaikan kecerahan berdasarkan bagian paling terang di bingkai.

Kalau produknya berwarna gelap, pekerjaannya lebih mudah: latar putih terang akan mendorong kamera menurunkan exposure, dan latar tetap putih. Kalau produknya berwarna terang, latar putih justru berisiko ikut menjadi abu-abu, karena kamera menurunkan kecerahan agar bagian terang tidak terlalu terang. Produk putih di atas latar putih adalah kasus tersulit, dan itu dibahas tersendiri di artikel ini.

Artikel ini membahas cara membuat latar putih sejak pemotretan, cara merapikannya kalau hasilnya belum rata, dan cara memeriksa hasilnya. Pekerjaan berkas setelah foto jadi, seperti menyeragamkan ukuran, ada di Kompres Foto.

Menyiapkan bidang putih

Bidang yang dipakai bisa kertas putih, kain putih, atau meja putih. Pilih yang permukaannya tidak mengkilap. Permukaan mengkilap memantulkan cahaya dan memunculkan bercak terang di sekitar produk, dan bercak itu sulit dihilangkan setelah foto jadi.

Untuk produk kecil, selembar kertas putih tebal sudah cukup. Tekuk kertas itu sehingga bagian bawah menjadi alas dan bagian belakang menjadi latar, tanpa sambungan yang tajam. Sambungan tajam menghasilkan garis bayangan yang terlihat seperti garis di belakang produk. Kalau memakai kain, setrika dulu supaya lipatannya tidak terpotret.

Pastikan bidangnya lebih lebar dari bingkai foto. Kalau tepi kertas masuk ke bingkai, kamera akan menampilkan tepi meja atau lantai di sudut foto, dan latar tidak lagi tampak putih penuh.

Memberi jarak dan mengatur cahaya

Produk yang menempel pada latar belakang meninggalkan bayangan yang menempel juga, dan bayangan itu membuat bagian latar di belakang produk menjadi abu-abu. Geser produk ke depan, sekitar satu rentang tangan dari latar belakang. Dengan jarak itu, bayangan jatuh ke arah bawah dan tidak lagi menempel di latar.

Cahaya yang paling mudah diatur adalah jendela pada siang hari, tanpa sinar matahari langsung. Kalau cahaya datang dari satu sisi saja, sisi lain produk menjadi gelap. Letakkan selembar karton putih atau kertas tebal di sisi yang gelap untuk memantulkan cahaya kembali ke produk. Pemantul sederhana ini mengurangi kontras tanpa menambah sumber cahaya kedua.

Hindari memakai dua sumber cahaya dengan warna berbeda. Jendela dan lampu ruangan menghasilkan dua warna, dan latar putih yang seharusnya netral bisa tampak kebiruan di satu sisi dan kekuningan di sisi lain. Kalau memotret pada malam hari, pakai satu lampu, dan jangan menggeser arahnya selama sesi.

Atur kecerahan lewat titik exposure di aplikasi kamera. Ketuk bagian latar yang terang, lalu turunkan sedikit kecerahannya sampai detail produk masih terlihat. Kalau latar terlihat putih bersih di layar tetapi produk menjadi gelap, naikkan sedikit, dan periksa hasilnya setelah difoto.

Kasus produk putih di atas latar putih

Ini kombinasi yang paling sering membuat latar tampak abu-abu. Penyebabnya, kamera menganggap bagian paling terang sebagai patokan, dan bagian itu bisa produk atau latar. Kalau keduanya berwarna mirip, batas antara produk dan latar nyaris tidak terlihat, dan hasilnya terlihat seperti satu bidang pucat.

Tiga hal yang membantu. Pertama, atur latar sedikit lebih terang daripada sisi produk yang menghadap kamera. Perbedaan tipis itu cukup untuk memisahkan keduanya tanpa membuat produk terlihat gelap. Kedua, beri bayangan tipis di bawah produk supaya bentuknya terbaca. Ketiga, kalau produknya punya tepi yang jelas, misalnya kotak kemasan, potret dari sudut yang memperlihatkan satu sisi gelap.

Kalau ketiga cara itu belum cukup, pindahkan produk ke latar abu-abu sangat muda saat memotret, lalu ubah warnanya menjadi putih di tahap penyuntingan. Cara ini lebih mudah dikerjakan karena batas produk dan latar sudah terlihat sejak awal.

Merapikan latar yang belum rata

Setelah foto jadi, periksa latarnya pada perbesaran penuh. Yang dicari adalah noda, bayangan keras, dan bagian yang tidak benar-benar putih. Tiga pekerjaan perbaikan yang biasa dilakukan.

Menaikkan kecerahan bagian latar. Pilih area latar dengan alat pemilihan berdasarkan warna, lalu naikkan kecerahannya sampai putih. Jangan menaikkan kecerahan seluruh foto, karena warna produk ikut berubah.

Menghapus noda dan bayangan yang tidak diinginkan. Pakai alat penghapus bercak atau kuas, dan bekerjalah pada perbesaran tinggi supaya tepinya rapi. Periksa hasilnya pada ukuran normal setelah selesai.

Meratakan warna latar. Latar yang bergradasi dari terang ke gelap bisa diratakan dengan menaikkan bagian yang lebih gelap saja. Kalau gradasinya terlalu lebar, ulangi pemotretan dengan pemantul di sisi yang gelap. Perbaikan di penyunting selalu lebih lama daripada perbaikan di pemotretan.

Perlu diingat, penghapusan latar otomatis bukan fitur layanan ini. Kalau latarnya perlu dibuang sama sekali, misalnya untuk ditempel di halaman dengan warna berbeda, pekerjaan itu dilakukan di aplikasi penyunting gambar. Pembahasan soal itu ada di cara menghapus background foto.

Menyimpan hasil dengan format yang tepat

Kalau latarnya putih penuh, simpan sebagai JPG. Ukurannya kecil, diterima hampir semua tempat, dan latar putih tidak berubah saat berkasnya dibagikan. Kalau produknya memerlukan latar tembus pandang, simpan sebagai PNG. Perlu diketahui, JPG tidak menyimpan transparansi, sehingga PNG transparan yang diubah ke JPG akan berlatar putih. Itu bawaan format, bukan pengaturan yang bisa dimatikan.

Kalau ukuran berkasnya perlu dikecilkan, gunakan Kompres JPG atau Kompres Foto. Ukuran akhirnya bisa dipilih di pratinjau, dan angkanya terlihat sebelum diunduh. Saat berkas ditulis ulang, EXIF dan GPS terhapus, sehingga koordinat tempat foto diambil tidak ikut tersebar.

Satu catatan soal latar putih bersih dan kompresi JPG. Pada latar yang benar-benar rata, kompresi bisa memunculkan bintik halus di sekitar tepi produk. Bintik itu biasanya baru terlihat saat foto diperbesar, dan bukan alasan untuk menghindari JPG. Kalau latar putih harus benar-benar rata pada perbesaran tinggi, pertimbangkan menyimpannya sebagai PNG, dengan konsekuensi ukuran berkas lebih besar.

Memeriksa hasil sebelum dipajang

Buka foto di layar yang sama dengan saat memotret, lalu periksa tiga hal. Pertama, apakah latar terlihat putih merata dari sudut ke sudut, tanpa bagian yang lebih gelap di satu sisi. Kedua, apakah tepi produk bersih, tanpa sisa garis abu-abu dari latar lama. Ketiga, apakah warna produk masih sesuai dengan barang aslinya.

Periksa juga tampilan foto di ponsel, karena warna dan kecerahan layar ponsel berbeda dari layar komputer. Kalau ragu, bandingkan foto dari beberapa produk sekaligus dalam satu tampilan. Latar yang tampak putih sendirian bisa terlihat abu-abu saat berdampingan dengan foto lain yang latarnya lebih terang. Penyeragaman itu yang membuat katalog terlihat rapi, dan caranya ada di Foto Produk.

Kapan latar putih tidak dianjurkan

Latar putih bukan pilihan yang tepat untuk semua produk. Produk berwarna putih atau krem sulit dipisahkan dari latarnya, dan hasilnya sering terlihat pucat. Untuk produk seperti itu, latar abu-abu muda atau latar bernuansa sesuai gaya merek lebih aman.

Produk bening seperti gelas dan botol juga sulit dipotret di atas latar putih, karena pantulan dan bagian tembus pandangnya menyatu dengan latar. Latar berwarna gelap justru memperlihatkan bentuk dan kilau produk bening dengan lebih jelas.

Kalau foto akan dipasang di halaman toko dengan latar berwarna, latar putih penuh akan terlihat seperti kotak. Untuk keperluan itu, latar tembus pandang lebih fleksibel, dan berkasnya disimpan sebagai PNG. Namun perlu diperiksa dulu ketentuan platformnya, karena banyak marketplace meminta latar putih atau latar polos. Ketentuan tiap platform berbeda dan bisa berubah, jadi periksa pusat bantuan resminya.

Kalau foto memuat data pribadi penjual, pertimbangkan memprosesnya dengan aplikasi di perangkat sendiri. Selama diproses di layanan daring, isi berkas keluar dari perangkat Anda. Keterangan perlakuan berkasnya ada di kebijakan privasi.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah harus memakai kertas khusus? Tidak. Kertas putih tebal atau kain putih yang tidak mengkilap sudah cukup. Yang penting permukaannya rata dan tidak memantulkan cahaya.

Kenapa latar putih saya terlihat abu-abu di foto? Biasanya karena kurang cahaya atau karena kamera menurunkan exposure mengikuti bagian paling terang. Tambah cahaya dari arah yang tetap, atau naikkan sedikit kecerahan saat memotret.

Bisakah latar putih dibuat tanpa memotret ulang? Bisa, selama latarnya tidak terlalu gelap dan produknya tidak berwarna sangat terang. Bagian latar dinaikkan kecerahannya dengan alat pemilihan warna di aplikasi penyunting. Kalau gradasinya lebar, memotret ulang lebih cepat.

Apakah latar putih sama dengan latar transparan? Tidak. Latar putih menyimpan piksel putih, sedangkan latar transparan tidak menyimpan warna apa pun di area latarnya. Latar transparan hanya bisa disimpan sebagai PNG atau WebP.

Apakah foto berlatar putih perlu diubah ke PNG? Tidak, kecuali ada kebutuhan transparansi. Untuk latar putih penuh, JPG lebih kecil dan lebih luas diterima.

Mulai dari satu bidang putih

Siapkan satu bidang putih, beri jarak antara produk dan latar, lalu atur cahaya dari satu arah. Periksa hasilnya di layar, dan rapikan bagian yang belum rata. Setelah beberapa foto berlatar putih terkumpul, seragamkan ukurannya lewat perkecil ukuran foto, dan susun katalognya lewat JPG ke PDF. Untuk urutan kerja lengkapnya, buka Foto Produk, dan untuk peta seluruh pekerjaan gambar, buka Panduan Gambar dan Foto.