Memilih jurusan sesuai karier berarti berpikir mundur: tentukan dulu pekerjaan yang ingin dituju, periksa syarat yang benar-benar diminta lowongan itu, lalu pilih jurusan yang membuka jalan ke sana. Urutannya sering dibalik orang, yaitu memilih jurusan lebih dulu lalu mencari pekerjaan yang cocok, dan hasilnya sering terasa sempit. Berpikir mundur tidak menjamin pekerjaan, tetapi ia membuat pilihan Anda punya alasan.
Jurusan dan pekerjaan tidak berhubungan satu lawan satu. Ada pekerjaan yang mensyaratkan jurusan tertentu, misalnya bidang kesehatan, teknik tertentu, dan akuntansi untuk peran yang mengurus pembukuan resmi. Ada juga pekerjaan yang terbuka untuk hampir semua jurusan, misalnya penjualan, pemasaran, administrasi, dan banyak peran di perusahaan teknologi. Mengetahui perbedaan ini mencegah Anda memilih jurusan karena tekanan, bukan karena rencana.
Panduan ini untuk siswa sekolah menengah, mahasiswa yang mempertimbangkan pindah jurusan, dan orang tua yang membantu anaknya memutuskan. Isinya bukan daftar jurusan terbaik, karena daftar seperti itu tidak ada. Isinya adalah cara menilai pilihan dengan informasi yang bisa Anda kumpulkan sendiri.
Mulai dari pekerjaan, bukan dari nama jurusan
Langkah pertama adalah menuliskan tiga sampai lima pekerjaan yang ingin Anda jelajahi. Tidak perlu pasti, cukup arah. Misalnya bekerja di laboratorium, mengajar, mengurus keuangan, membangun perangkat lunak, atau bekerja di bidang kesehatan. Tuliskan juga alasan Anda tertarik, karena alasan itu akan diuji saat Anda menemukan bagian pekerjaan yang tidak menyenangkan.
Langkah kedua, cari lowongan untuk pekerjaan itu dan baca syaratnya. Kumpulkan dari beberapa sumber: situs lowongan, pengumuman instansi, dan informasi dari orang yang sudah bekerja di bidangnya. Perhatikan kata yang berulang. Kalau hampir semua lowongan menulis "jurusan tertentu", jurusan itu menjadi penting. Kalau lowongan menulis "semua jurusan" atau menyebut keahlian saja, jalurnya lebih terbuka.
Langkah ketiga, bandingkan daftar syarat dengan pilihan jurusan yang tersedia untuk Anda. Dari situ akan terlihat jurusan mana yang membuka paling banyak pintu, dan mana yang hanya membuka satu pintu sempit. Jurusan yang pintunya sempit tidak salah, asalkan Anda tahu dan menerima risikonya.
Menimbang minat, kemampuan, dan kenyataan
Minat penting, tetapi minat saja tidak cukup. Anda akan menghabiskan beberapa tahun mempelajari jurusan itu, dan sebagian isinya pasti membosankan. Yang membuat orang bertahan bukan hanya suka, melainkan juga kemampuan mengerjakan bagian yang sulit. Nilai mata pelajaran tertentu bisa menjadi petunjuk, meskipun bukan penentu.
Kemampuan juga bisa dilatih. Kalau Anda lemah di matematika tetapi ingin masuk jurusan yang banyak berhitung, Anda perlu menilai apakah Anda bersedia berlatih lebih banyak daripada teman sekelas. Itu keputusan yang jujur, bukan keputusan yang romantis. Banyak orang berhasil setelah berlatih keras, dan banyak juga yang menyerah di tengah jalan karena tidak memperhitungkan bebannya.
Kenyataan lain yang perlu ditimbang adalah biaya dan waktu. Jurusan tertentu memerlukan alat, praktikum, atau masa pendidikan yang lebih panjang. Sebagian jurusan menuntut pendidikan lanjut sebelum bisa bekerja di bidangnya. Hitung biaya total sampai lulus, bukan hanya uang pangkalnya, lalu bandingkan dengan kemampuan keluarga. Kalau biayanya memberatkan, cari jurusan dengan jalur yang lebih terjangkau, beasiswa, atau program yang memungkinkan bekerja sambil kuliah.
Periksa peluang tanpa mengandalkan ramalan
Tidak ada yang bisa meramalkan jurusan mana yang akan paling dicari lima tahun lagi. Yang bisa Anda periksa adalah permintaan yang terlihat sekarang: berapa banyak lowongan yang muncul, di kota mana, dan syarat apa yang diminta. Data itu bukan ramalan, tetapi lebih berguna daripada opini.
Cara memeriksanya sederhana. Simpan hasil pencarian lowongan selama beberapa minggu, lalu lihat polanya. Kalau lowongan untuk bidang itu jarang muncul di kota Anda dan Anda tidak bisa pindah, pertimbangkan jurusan yang lebih banyak dicari di sekitar Anda. Kalau lowongan banyak tetapi semuanya meminta pengalaman, jurusan itu tetap bisa dipilih asalkan Anda menyiapkan magang sejak awal.
Pertimbangkan juga pekerjaan yang tidak mensyaratkan jurusan. Banyak orang bekerja di bidang yang tidak sesuai jurusannya dan tetap berkembang, karena mereka menambah keahlian lewat pelatihan dan pengalaman. Jurusan bukan takdir; ia hanya pintu pertama. Yang menentukan perjalanan berikutnya adalah keahlian yang Anda tambahkan setelah lulus.
Bertanya kepada orang yang sudah bekerja
Informasi terbaik datang dari orang yang mengerjakan pekerjaan itu sehari-hari, bukan dari brosur. Tanyakan hal yang konkret: apa yang dikerjakan dari pagi sampai sore, bagian apa yang paling melelahkan, dan apa yang membuat mereka bertahan. Jawaban seperti itu jauh lebih berguna daripada penjelasan umum tentang prospek.
Tanyakan juga tentang orang yang masuk ke bidang itu dari jurusan lain. Kalau banyak orang masuk dari jurusan berbeda, berarti pintunya lebih terbuka daripada yang terlihat. Sebaliknya, kalau semua orang di bidang itu berasal dari satu jurusan tertentu, Anda perlu menimbang ulang.
Kalau Anda tidak punya kenalan di bidang itu, mulai dari yang paling dekat: guru, dosen, alumni sekolah, atau komunitas daring. Sampaikan pertanyaan dengan sopan dan spesifik, lalu ucapkan terima kasih. Sebagian orang akan senang membantu, dan sebagian tidak menjawab. Itu wajar.
Menyiapkan berkas dan langkah setelah lulus
Pilihan jurusan tidak berhenti di pendaftaran. Selama kuliah, kumpulkan pengalaman yang bisa diceritakan: magang, proyek, organisasi, atau pekerjaan lepas. Pengalaman itu yang nanti mengisi CV dan membedakan Anda dari lulusan lain. Panduan menyusunnya ada di CV ATS, dan Anda bisa mulai menyusunnya di Pembuat CV sejak dini.
Untuk lamaran pertama, baca juga cara memilih pekerjaan pertama karena pilihan jurusan dan pilihan pekerjaan pertama saling terkait. Kalau Anda mempertimbangkan jalur teknologi, bandingkan dua pintu yang berbeda di cara memulai karier di bidang data dan cara memulai karier di bidang IT.
Kapan saran ini tidak berlaku
Kalau Anda sudah terlanjur masuk jurusan yang tidak sesuai, saran di atas tidak perlu disesali. Pindah jurusan punya biaya waktu dan uang, dan tidak selalu worth it. Yang lebih sering membantu adalah menambah keahlian di luar jurusan, mengikuti magang di bidang yang dituju, dan menjelaskan alasan perpindahan Anda dengan jujur saat wawancara.
Kalau keluarga menanggung biaya dan punya harapan tertentu, keputusan ini bukan keputusan Anda sendiri. Bicarakan dengan tenang, bawa informasi yang Anda kumpulkan, dan cari titik temu. Memaksakan pilihan tanpa dukungan keluarga sering membuat perjalanan kuliah lebih berat.
Kalau Anda belum punya gambaran pekerjaan sama sekali, jangan menunda kuliah karena bingung. Pilih jurusan yang paling luas pintunya, sambil terus mencari tahu. Keputusan yang diambil sambil berjalan lebih baik daripada menunggu kepastian yang tidak datang.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah jurusan menentukan pekerjaan? Tidak selalu. Sebagian pekerjaan mensyaratkan jurusan tertentu, tetapi banyak pekerjaan menilai keahlian dan pengalaman. Periksa syarat lowongan untuk bidang yang Anda tuju.
Bagaimana kalau saya salah pilih jurusan? Perbaiki sambil berjalan. Tambah keahlian lewat magang, proyek, atau pelatihan, lalu jelaskan perpindahan Anda dengan jujur. Pindah jurusan juga pilihan, asalkan Anda sudah menghitung biaya dan waktunya.
Apakah jurusan yang sedang ramai pasti menjamin kerja? Tidak. Permintaan bisa berubah. Periksa lowongan yang benar-benar muncul, bukan hanya berita tentang bidang yang sedang naik.
Haruskah mengikuti jurusan yang diinginkan orang tua? Tidak harus, tetapi keputusan ini sebaiknya dibicarakan. Bawa informasi yang bisa diperiksa, lalu cari pilihan yang bisa diterima kedua pihak.
Apakah nilai jelek di satu mata pelajaran menghalangi? Belum tentu. Nilai adalah satu petunjuk, bukan penentu tunggal. Kalau Anda bersedia berlatih, banyak hal bisa dikejar selama kuliah.
Mengambil keputusan dengan tenang
Tuliskan pilihan jurusan Anda dalam satu halaman: pekerjaan yang dituju, syarat yang berulang di lowongan, biaya dan waktu, serta orang yang sudah Anda tanyai. Setelah semuanya terlihat, keputusan biasanya lebih mudah diambil, karena Anda tahu apa yang dipertukarkan.
Peta lengkap topik karier ada di Karier Jangka Panjang, dan panduan menyiapkan berkas lamaran ada di Panduan CV dan Karier. Mulailah mengumpulkan pengalaman sejak kuliah, lalu susun CV-nya di Pembuat CV saat waktunya melamar.