Konvensi penomoran skripsi di Indonesia umumnya memakai dua format: bagian awal memakai angka Romawi kecil (i, ii, iii), dan bagian isi memakai angka Arab (1, 2, 3). Halaman judul biasanya tanpa nomor, meskipun tetap dihitung dalam urutan. Pemisah antara kedua bagian adalah batas yang jelas, misalnya setelah daftar tabel dan daftar gambar, tepat sebelum bab pendahuluan.
Tool Nomor Halaman PDF mencetak satu format angka Arab untuk seluruh berkas, dan nomor awalnya bisa diatur. Artinya, bagian isi skripsi bisa dikerjakan dengan tool ini, sedangkan bagian awal yang memakai angka Romawi perlu disiapkan di dokumen sumber sebelum berkas dijadikan PDF. Pembagian tugas itu yang dibahas di artikel ini.
Bagian berikut menjelaskan konvensi yang lazim dipakai, bagian mana yang bisa dikerjakan di PDF, bagian mana yang harus beres sebelum konversi, dan cara memeriksa hasilnya supaya penomoran tidak meleset dari pedoman kampus.
Konvensi yang lazim dipakai
Bagian awal skripsi memuat halaman judul, halaman pengesahan, abstrak, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran. Nomor pada bagian ini memakai angka Romawi kecil dan diletakkan di tengah bawah halaman. Halaman judul biasanya tidak diberi nomor meski tetap dihitung, sehingga nomor pertama yang terlihat biasanya jatuh di halaman kedua.
Bagian isi memuat bab pendahuluan sampai penutup, lalu daftar pustaka dan lampiran. Nomor pada bagian ini memakai angka Arab dan juga diletakkan di tengah bawah halaman. Nomor dimulai dari 1 pada halaman pertama bab pendahuluan, meskipun dalam urutan fisik dokumen halaman itu berada setelah bagian awal.
Bagian akhir kadang mengikuti aturan tersendiri. Lampiran dan riwayat hidup pada sebagian pedoman memakai angka Arab lanjutan, dan pada sebagian pedoman lain memakai penomoran tersendiri. Periksa pedoman kampus.
Letak nomor juga diatur. Umumnya nomor berada di tengah bawah, berjarak tertentu dari tepi bawah kertas. Jarak itu ditetapkan dalam pedoman, dan sering dikaitkan dengan batas area cetak supaya nomor tidak terpotong saat dijilid.
Bagian yang bisa dikerjakan dengan tool
Bagian isi dengan angka Arab adalah bagian yang bisa dikerjakan dengan Nomor Halaman PDF. Format angkanya sesuai: 1, 2, 3, dan seterusnya. Nomor awalnya bisa diatur, jadi kalau bab pendahuluan harus dimulai dari angka 1, isi nomor awal dengan 1. Kalau ada keperluan lain, misalnya nomor awal mengikuti hitungan tertentu, angka itu bisa disesuaikan.
Posisi nomor juga bisa diatur. Titik awalnya di tengah bawah halaman, dan itu sudah sesuai dengan kebiasaan penomoran skripsi. Kalau pedoman kampus meminta posisi yang berbeda, nomor bisa digeser di pratinjau. Nomor diletakkan di dalam area cetak supaya tidak terpotong saat dijilid.
Nomor yang dicetak adalah nomor baru. Kalau dokumen yang Anda unggah sudah membawa nomor dari dokumen sumbernya, nomor itu tidak dihapus. Pastikan dokumen sumber belum membawa nomor di bagian isi sebelum diproses.
Bagian yang harus dikerjakan di dokumen sumber
Angka Romawi pada bagian awal tidak bisa dikerjakan dengan tool ini, karena tool mencetak satu format angka untuk seluruh berkas. Bagian itu disiapkan di dokumen sumber sebelum dikonversi ke PDF.
Cara yang paling praktis adalah membagi dokumen menjadi dua bagian di aplikasi pengolah kata. Bagian pertama untuk halaman judul, halaman pengesahan, dan bagian awal lainnya, dengan nomor berformat Romawi kecil. Halaman judul biasanya diberi pengaturan tanpa nomor, sementara halaman berikutnya melanjutkan penomoran. Bagian kedua dimulai dari bab pendahuluan, dengan nomor berformat angka Arab. Pengaturan per bagian inilah yang memungkinkan dua format nomor berbeda dalam satu dokumen.
Simpan dokumen dalam format aslinya, misalnya .docx, lalu konversi ke PDF pada langkah terakhir. Menyimpan hanya dalam bentuk PDF menghilangkan kesempatan memperbaiki penomoran dari akarnya. Cara mengubah dokumen ke PDF tanpa mengubah tampilannya dijelaskan di Cara Mengubah Word ke PDF Tanpa Font Berubah.
Langkah menerapkan penomoran pada bagian isi
- Pastikan dokumen sumber sudah final. Perbaiki dulu ejaan, urutan halaman, dan daftar isinya.
- Bagi dokumen menjadi dua berkas: bagian awal dan bagian isi.
- Konversi kedua berkas ke PDF.
- Buka Nomor Halaman PDF dan unggah berkas bagian isi.
- Isi nomor awal dengan 1, atau angka lain sesuai pedoman kampus.
- Periksa posisi nomor di pratinjau. Titik awalnya di tengah bawah halaman, dan itu biasanya sudah sesuai.
- Jalankan proses, unduh hasilnya, lalu periksa halaman pertama dan halaman terakhir bagian isi.
- Gabungkan berkas bagian awal dan bagian isi lewat Gabung PDF sesuai urutan yang benar.
- Periksa hasil gabungan dari halaman pertama sampai halaman terakhir.
Langkah kesembilan memakan waktu, tetapi itulah satu-satunya cara memastikan penomoran tidak meleset. Periksa juga daftar isi, karena nomor halaman yang tercantum di sana harus cocok dengan nomor yang tercetak di halaman.
Memeriksa kesesuaian dengan pedoman kampus
Setiap kampus punya pedoman penulisan sendiri, dan perbedaannya sering ada pada detail. Ada yang menetapkan jarak nomor dari tepi bawah, ada yang mengatur halaman mana saja yang dihitung, dan ada yang menentukan sendiri kapan penomoran Arab dimulai. Baca pedoman itu sebelum mengerjakan penomoran.
Periksa tiga hal setelah penomoran selesai. Pertama, format angka di setiap bagian sudah sesuai: Romawi kecil di bagian awal, Arab di bagian isi. Kedua, posisi nomor konsisten di semua halaman. Ketiga, halaman judul tidak bernomor.
Periksa juga halaman yang punya tabel atau gambar besar. Nomor di bagian bawah halaman bisa bertumpuk dengan isi kalau halaman itu penuh. Kalau itu terjadi, geser posisinya sedikit, lalu jalankan ulang prosesnya dari berkas asli.
Masalah yang sering terjadi
Angka Romawi ikut berubah menjadi angka Arab. Berarti seluruh dokumen diproses sekaligus dengan tool penomoran. Bagian awal harus dikeluarkan dari proses, karena tool ini mencetak satu format angka.
Halaman judul ikut bernomor. Tool penomoran tidak bisa melewati halaman tertentu. Halaman judul perlu dikeluarkan dari proses, atau nomornya ditutup setelah penomoran selesai. Kedua cara itu dijelaskan di Cara Menambahkan Nomor Halaman Kecuali Halaman Pertama.
Nomor di bagian isi dimulai dari 2, bukan 1. Nomor awalnya belum diatur. Jalankan ulang penomoran dengan nomor awal 1, atau angka lain yang sesuai pedoman.
Dua nomor terlihat di halaman bagian isi. Dokumen sumbernya sudah membawa nomor. Hapus penomoran dari dokumen sumber lebih dulu, lalu konversi ulang dan jalankan penomoran.
Daftar isi tidak cocok dengan nomor yang tercetak. Daftar isi dibuat sebelum penomoran berubah. Perbarui daftar isi di dokumen sumber, lalu cetak ulang halaman itu.
Kapan sebaiknya tidak memakai tool online
Skripsi adalah dokumen pribadi yang memuat identitas lengkap dan hasil penelitian yang belum dipublikasikan. Untuk berkas seperti itu, pertimbangkan dulu apakah dokumen boleh meninggalkan perangkat. Pada tool di kelompok ini, berkas dialirkan ke pemroses dan hasilnya dikirim balik ke peramban tanpa ditulis ke penyimpanan permanen. Meski begitu, berkas tetap dikirim keluar selama proses berlangsung. Keterangan lengkapnya ada di kebijakan privasi.
Kalau dokumennya sangat panjang dan penomorannya rumit, aplikasi pengolah kata di komputer sendiri memberi kendali yang lebih langsung. Tool online paling berguna untuk bagian yang bisa dikerjakan cepat, misalnya menambahkan nomor Arab pada bagian isi. Batas paketnya: batasnya berbeda per paket, yaitu 30 MB per berkas pada paket Gratis dan 200 MB pada paket Berbayar. Angka lengkapnya ada di halaman harga.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah tool ini bisa mencetak angka Romawi? Tidak. Formatnya angka Arab: 1, 2, 3, dan seterusnya. Angka Romawi pada bagian awal dikerjakan di dokumen sumber sebelum dikonversi.
Apakah nomor awal bisa diatur untuk memulai bagian isi dari angka tertentu? Bisa. Nomor awal bisa diatur, misalnya dimulai dari 1 untuk bab pendahuluan atau angka lain sesuai pedoman kampus.
Apakah halaman judul bisa dilewati langsung oleh tool? Tidak. Halaman judul harus dikeluarkan dari proses, atau nomornya ditutup setelah penomoran selesai.
Apakah nomor lama di dokumen sumber ikut terhapus? Tidak. Tool mencetak nomor baru dan tidak menghapus nomor lama. Penomoran dari dokumen sumber sebaiknya dibersihkan lebih dulu.
Apakah penomoran perlu diulang setelah berkas digabung? Tidak, selama urutan penggabungannya benar dan nomor awal sudah sesuai. Periksa hasil gabungan untuk memastikan tidak ada halaman yang nomornya meleset.
Setelah penomoran sesuai pedoman
Periksa hasil gabungan dari halaman pertama sampai halaman terakhir, lalu bandingkan dengan daftar isi. Kalau ada halaman yang urutannya perlu diperbaiki, kerjakan lewat Mengatur Halaman PDF. Peta lengkap pekerjaan penyuntingan dokumen ada di Mengedit PDF: Teks, Cap, dan Area, dan penjelasan umum tentang format PDF ada di Panduan PDF.