Menyusun daftar pustaka dikerjakan dengan mencatat data setiap sumber sejak pertama kali dibaca, bukan setelah naskah selesai. Catatan itu dirapikan menjadi satu daftar di akhir naskah, mengikuti gaya sitasi yang ditetapkan kampus. Gaya penulisannya berbeda antar kampus, dan pedoman resmi kampus Anda yang mengikat, bukan contoh yang ditemukan di internet atau kebiasaan penulis lain.
Daftar pustaka bukan pelengkap yang bisa dikerjakan terburu-buru di menit terakhir. Ia adalah bagian yang menghubungkan klaim di batang tubuh dengan sumbernya. Kalau satu rujukan hilang dari daftar, pembaca tidak bisa memeriksa asalnya. Kalau satu entri tidak pernah dirujuk di batang tubuh, ia justru menimbulkan pertanyaan. Dua arah kecocokan inilah yang dijaga.
Kenapa daftar pustaka bukan pekerjaan terakhir
Kebiasaan yang paling menolong adalah mencatat rujukan pada saat membacanya. Saat Anda mengutip sebuah kalimat atau mengambil sebuah gagasan, salin data sumbernya ke satu berkas catatan. Pekerjaan satu menit itu menghindarkan Anda dari mengulang pencarian dokumen berbulan-bulan kemudian, ketika ingatan tentang halaman dan edisi sudah kabur.
Kebiasaan yang berbahaya adalah menunda pencatatan sampai draf selesai. Pada titik itu, naskah bisa memuat puluhan rujukan yang sumbernya tercampur. Mengurai ulang semuanya memakan waktu lebih lama daripada mencatat sejak awal.
Simpan satu berkas kerja khusus untuk rujukan. Berkas itu boleh berupa daftar sederhana di pengolah kata atau pengelola rujukan, yang penting isinya lengkap dan mudah dicari.
Data apa yang perlu dicatat
Data yang diperlukan bergantung pada jenis sumbernya, dan rincian formatnya ditetapkan gaya sitasi yang dipakai kampus. Meski begitu, polanya berulang. Untuk buku, catat penulis, tahun terbit, judul, edisi bila ada, penerbit, dan kota penerbitan. Untuk artikel jurnal, catat penulis, tahun, judul artikel, nama jurnal, volume, nomor, dan halaman.
Untuk sumber daring, catat alamat tautannya dan tanggal Anda mengaksesnya, karena sebagian gaya mensyaratkan keterangan itu. Untuk bab di dalam buku yang disunting orang lain, catat penyuntingnya juga. Untuk karya terjemahan, catat penerjemahnya bila diminta.
Satu hal yang sering terlewat: sumber yang Anda baca lewat perantara. Kalau Anda mengutip sebuah gagasan dari kutipan di buku lain, catat kedua sumbernya. Pedoman kampus biasanya mengatur cara menuliskan rujukan semacam itu, jadi periksa bagian itu sebelum menyalinnya.
Gaya sitasi berbeda tiap kampus
Kampus dan program studi menetapkan gaya sitasi yang berbeda. Sebagian memakai gaya yang menekankan nama penulis dan tahun di dalam teks, sebagian memakai nomor yang menunjuk daftar bernomor, dan sebagian memakai catatan kaki. Perbedaan itu bukan soal mana yang lebih benar, melainkan soal mana yang diminta.
Karena itu, langkah pertama sebelum menulis daftar adalah mencari gaya yang berlaku. Gaya itu biasanya disebut di pedoman penulisan skripsi, panduan tugas akhir, atau instruksi dosen. Kalau tidak ditemukan, tanyakan ke dosen pembimbing atau pengelola program studi. Jangan menebak dari contoh naskah kakak tingkat, karena pedoman bisa berubah dan naskah lama belum tentu mengikuti aturan terbaru.
Setelah gayanya diketahui, samakan seluruh entri. Daftar yang mencampur dua gaya membuat pemeriksa ragu, sekalipun setiap entri ditulis dengan rapi.
Urutan, konsistensi, dan kecocokan
Daftar pustaka diurutkan menurut aturan gaya yang dipakai, dan urutannya harus konsisten dari entri pertama sampai terakhir. Jangan mengurutkan sebagian entri menurut abjad dan sebagian menurut tahun.
Konsistensi juga menyangkut ejaan nama penulis dan penulisan judul. Nama yang sama sebaiknya ditulis dengan cara yang sama di seluruh daftar. Judul yang di satu entri memakai huruf miring dan di entri lain memakai tanda petik menandakan pekerjaan yang belum selesai.
Yang paling penting adalah kecocokan dua arah. Setiap rujukan di batang tubuh harus punya entri di daftar pustaka, dan setiap entri di daftar harus benar-benar dirujuk. Cara memeriksanya sederhana: telusuri batang tubuh dari awal, tandai setiap rujukan, lalu coret entri yang cocok di daftar. Sisa yang tidak tercoret adalah entri yang perlu diperiksa.
Daftar pustaka dan daftar isi bukan hal yang sama
Dua bagian ini sering tertukar. Daftar isi menunjukkan letak bab dan subbab di dalam naskah, sedangkan daftar pustaka memuat sumber yang dirujuk. Keduanya dibangun dari data yang berbeda. Daftar isi otomatis dibangun dari gaya judul, dan cara menyiapkannya dibahas di membuat daftar isi otomatis di Word.
Kalau naskah memuat banyak tabel dan gambar, ada pula daftar tabel dan daftar gambar. Ketiganya disusun setelah isi naskah final, karena nomor halamannya ikut bergeser setiap kali isinya disunting.
Langkah menyusun daftar pustaka
- Kumpulkan catatan rujukan yang tersebar di berkas kerja.
- Pastikan setiap catatan memuat data yang diminta gaya sitasi kampus.
- Tentukan gaya sitasi yang berlaku dari pedoman resmi.
- Rapikan setiap entri mengikuti gaya itu, satu per satu.
- Urutkan seluruh entri menurut aturan gaya.
- Cocokkan setiap rujukan di batang tubuh dengan entri di daftar.
- Periksa konsistensi ejaan nama dan penulisan judul.
- Ekspor naskah lengkap lewat Word ke PDF (simpan langsung ke PDF dari menu File di Microsoft Word atau WPS), lalu periksa daftar pustakanya di PDF hasilnya.
Langkah terakhir penting karena tata letak daftar pustaka sering berubah saat diekspor. Gaya pengolah kata yang menonjolkan judul buku, misalnya, perlu diperiksa apakah tampilannya tetap terbaca di PDF.
Kesalahan yang sering terjadi
Mencatat rujukan setelah naskah selesai. Data sumber mudah tercampur, dan pencarian ulang memakan waktu. Catat saat membaca.
Mencampur dua gaya sitasi. Pilih satu gaya sesuai pedoman, lalu samakan seluruh entri.
Menyalin entri dari daftar pustaka naskah lain. Entri yang disalin membawa kesalahan naskah asalnya. Tulis ulang dari data sumbernya.
Membiarkan entri yang tidak dirujuk. Entri yang tidak pernah muncul di batang tubuh membuat daftar tampak tidak teliti. Hapus atau rujuk kembali.
Lupa memperbarui daftar setelah revisi. Setiap penambahan atau penghapusan rujukan harus diikuti pembaruan daftar.
Kapan cara ini tidak dipakai
Kalau pedoman kampus mewajibkan pengelola rujukan tertentu atau templat daftar pustaka yang harus dipakai apa adanya, ikuti ketentuan itu. Menggantinya dengan susunan sendiri berisiko ditolak.
Kalau gaya sitasi kampus tidak dijelaskan di pedoman, tanyakan langsung ke dosen atau program studi. Menebak gaya dari contoh naskah lama berisiko salah, karena pedoman bisa berubah.
Untuk naskah yang memuat data penelitian yang belum boleh beredar, kerjakan dengan aplikasi di komputer sendiri. Berkas yang diproses di layanan ini melewati server dan hasilnya kembali ke peramban tanpa penyimpanan permanen, tetapi selama proses berlangsung berkas tetap keluar dari perangkat Anda. Keterangannya ada di kebijakan privasi.
Memeriksa daftar pustaka sebelum naskah diserahkan
Periksa lima hal. Pertama, kelengkapan data: setiap entri memuat keterangan yang diminta gaya. Kedua, kecocokan: tidak ada rujukan tanpa entri dan tidak ada entri tanpa rujukan. Ketiga, urutan: seluruh entri mengikuti satu aturan urutan. Keempat, konsistensi: ejaan nama dan penulisan judul seragam. Kelima, tampilan: setelah diekspor, daftar pustaka terbaca dan tidak terpotong.
Kalau naskah digabung dari beberapa berkas bab, daftar pustaka biasanya diletakkan setelah bab terakhir. Cara menyatukannya dibahas di menggabungkan bab skripsi jadi satu PDF.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah daftar pustaka boleh dikerjakan sebelum naskah selesai? Justru dianjurkan. Catatan rujukan yang dibuat sambil membaca lebih lengkap daripada yang disusun di akhir.
Bagaimana kalau satu sumber tidak punya nama penulis? Sebagian gaya mengatur cara menuliskannya. Periksa aturan gaya yang dipakai kampus, lalu tulis sesuai aturan itu.
Apakah semua sumber yang dibaca harus masuk daftar pustaka? Tidak. Yang masuk daftar adalah sumber yang dirujuk di naskah. Bacaan latar yang tidak dikutip tidak perlu dicantumkan.
Apakah daftar pustaka boleh memakai sumber daring? Boleh, selama gayanya sesuai dan data aksesnya dicatat. Ikuti ketentuan pedoman kampus tentang sumber daring.
Apakah daftar pustaka perlu nomor halaman sendiri? Penempatan dan penomoran mengikuti pedoman kampus. Periksa ketentuannya sebelum mengekspor naskah final.
Menutup dengan daftar yang bisa dipercaya
Susun daftar pustaka dengan mencatat setiap rujukan sejak awal, mengikuti gaya sitasi yang ditetapkan kampus, dan memeriksa kecocokan dua arah sebelum naskah diekspor. Simpan berkas kerja rujukan Anda, karena ia berguna saat naskah direvisi. Untuk pekerjaan berkas pendidikan lain, buka Dokumen Pendidikan. Peta seluruh pekerjaan dokumen ada di Panduan Dokumen, dan panduan berkas PDF secara umum ada di Panduan PDF.