Lampiran skripsi dibuat dengan mengumpulkan dokumen pendukung penelitian, menyusunnya berurutan setelah bab penutup, memberi nomor dan judul lampiran, lalu menyatukannya ke berkas skripsi lewat Gabung PDF. Bagian ini tidak memuat pembahasan baru. Isinya bukti yang membuat hasil penelitian bisa diperiksa ulang: instrumen, data mentah, surat izin, dan dokumentasi. Karena setiap kampus menetapkan urutan serta format lampirannya sendiri, pedoman resmi kampus selalu menang atas susunan yang Anda anggap lebih rapi.
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah menganggap lampiran sebagai tempat menaruh sisa tulisan yang tidak muat di bab. Lampiran bukan tempat pembuangan. Pembaca yang membuka lampiran mencari bukti, bukan argumen tambahan. Kalau sebuah tabel atau gambar masih perlu dijelaskan panjang, penjelasan itu tempatnya di batang tubuh, sedangkan lampiran menyimpan versi lengkapnya.
Apa saja yang masuk ke lampiran
Kandungan lampiran berbeda antar penelitian, tetapi polanya berulang. Penelitian lapangan biasanya melampirkan instrumen seperti kuesioner atau pedoman wawancara, surat izin penelitian dari instansi terkait, dan transkrip wawancara. Penelitian kuantitatif sering melampirkan data mentah, tabel hasil perhitungan, dan keluaran perangkat lunak statistik. Penelitian pengembangan atau rekayasa bisa melampirkan kode program, diagram rangkaian, atau dokumentasi uji.
Dokumentasi kegiatan juga lazim dilampirkan: foto, daftar hadir, dan berita acara. Semua bahan ini punya satu sifat yang sama, yaitu terlalu panjang atau terlalu teknis untuk ditaruh di tengah bab, tetapi harus bisa diakses pembaca yang ingin memeriksa.
Ada bahan yang sebaiknya tidak masuk lampiran. Salinan utuh sumber yang Anda kutip jarang diperlukan, karena yang dibutuhkan adalah kutipan yang relevan dan daftar pustaka yang benar. Dokumen pribadi responden juga tidak diletakkan di lampiran tanpa persetujuan, sebab skripsi biasanya diarsipkan dan bisa dibaca orang lain. Kalau data perlu dianonimkan, ganti nama dan identitas sebelum berkas disusun.
Membaca ketentuan lampiran di pedoman kampus
Pedoman skripsi biasanya memuat aturan tentang lampiran, walaupun kadang diletakkan di bagian yang tidak mencolok. Yang perlu dicari ada empat. Pertama, penomoran lampiran: apakah memakai angka, huruf, atau penomoran yang terpisah dari batang tubuh. Kedua, penempatan: apakah lampiran diletakkan setelah daftar pustaka atau sebelum halaman riwayat hidup. Ketiga, penomoran halaman lampiran: apakah melanjutkan nomor batang tubuh atau berdiri sendiri. Keempat, format halaman judul lampiran, termasuk judul dan posisinya.
Catat keempat hal itu sebelum menyusun. Perubahan kecil seperti penomoran yang keliru sering membuat berkas harus disusun ulang, dan itu pekerjaan yang tidak perlu.
Langkah membuat lampiran skripsi
- Kumpulkan semua bahan pendukung, lalu pisahkan mana yang benar-benar dirujuk dari batang tubuh.
- Urutkan bahan mengikuti pedoman kampus. Kalau pedoman tidak menyebut urutan, urutkan mengikuti urutan kemunculan rujukannya.
- Beri setiap lampiran satu halaman judul atau penanda nomor sesuai format pedoman.
- Periksa keterbacaan setiap bahan: tabel tidak terpotong, foto tidak gelap, tulisan hasil pindai masih terbaca.
- Ekspor setiap dokumen ke PDF dari sumbernya. Dokumen pengolah kata diekspor lewat Word ke PDF (simpan langsung ke PDF dari menu File di Microsoft Word atau WPS), sedangkan bahan hasil pindai disusun lewat JPG ke PDF.
- Kalau jumlah lampiran banyak, susun berkasnya menjadi beberapa bagian yang mudah diperiksa.
- Gabungkan bagian-bagian itu ke berkas skripsi lewat Gabung PDF.
- Periksa hasil gabungan halaman per halaman, terutama di titik sambung antara batang tubuh dan lampiran.
Menjaga konsistensi penomoran
Penomoran lampiran adalah bagian yang paling mudah kacau, terutama kalau bahan dikumpulkan dari beberapa sumber. Tiga hal yang perlu dijaga: nomor lampiran, rujukan di batang tubuh, dan urutan halaman.
Nomor lampiran harus cocok dengan rujukannya. Kalau di bab analisis tertulis "lihat Lampiran 3", maka Lampiran 3 harus benar-benar memuat data yang dimaksud. Periksa pasangan ini dengan membaca ulang setiap rujukan, bukan dengan mengandalkan ingatan.
Urutan halaman juga perlu dijaga setelah penggabungan. Setiap berkas membawa penomoran halamannya sendiri, jadi nomor bisa berulang atau hilang di titik sambung. Kalau pedoman kampus menghendaki nomor halaman yang berlanjut, atur ulang lewat Nomor Halaman. Tool itu menulis nomor berupa angka, nomor awalnya bisa diatur, dan posisinya digeser di pratinjau. Kalau pedoman meminta penomoran Romawi atau format lain, atur di pengolah kata sebelum ekspor, karena tool di sini hanya menulis angka.
Ukuran berkas dan lampiran berisi gambar
Lampiran adalah bagian yang paling sering membuat skripsi membengkak. Penyebabnya jelas: foto dokumentasi dan hasil pindai beresolusi tinggi jauh lebih berat daripada halaman teks. Skripsi yang di batang tubuhnya ringan bisa berlipat ukurannya begitu lampiran dimasukkan.
Kecilkan sebelum digabung, bukan sesudahnya. Kompres PDF menurunkan resolusi gambar yang berlebihan dengan batas efektif 150 DPI, lalu merapikan struktur berkas. PDF berisi foto bisa menyusut sampai sekitar 90 persen, sedangkan PDF teks nyaris tidak berubah karena hurufnya berupa vektor. Setelah proses, bandingkan ukuran sebelum dan sesudah, lalu buka hasilnya untuk memastikan foto masih cukup jelas.
Perlu diingat bahwa hasil pindai tidak bisa dicari teksnya. OCR belum tersedia, jadi halaman lampiran yang berupa gambar diperlakukan sebagai gambar, dan kata di dalamnya tidak bisa dipilih atau disalin. Kalau ada bahan yang perlu bisa dicari, ketik ulang atau ambil dari sumber digitalnya.
Kesalahan yang sering terjadi
Menaruh pembahasan baru di lampiran. Lampiran hanya memuat bukti. Kalau ada analisis yang belum dibahas, tempatnya di bab, bukan di lampiran.
Nomor lampiran tidak cocok dengan rujukan di batang tubuh. Rujukan yang menunjuk lampiran salah membuat pembaca kehilangan jejak. Periksa setiap rujukan satu per satu.
Halaman judul lampiran dibuat dengan format sendiri. Pedoman kampus biasanya menetapkan bentuk halaman ini. Menggantinya dengan bentuk lain membuat berkas ditolak.
Lampiran hasil pindai terlalu gelap atau miring. Foto dokumentasi yang diambil terburu-buru sering tidak terbaca. Ambil ulang daripada memaksakan hasil yang buram.
Skripsi menjadi terlalu besar untuk diunggah. Kumpulan foto beresolusi tinggi adalah penyebab utamanya. Kecilkan berkas sebelum digabung.
Kapan cara ini tidak dipakai
Kalau pedoman kampus menyediakan templat lampiran atau mewajibkan urutan tertentu, ikuti templat itu apa adanya. Susunan yang Anda anggap lebih rapi belum tentu diterima.
Kalau kampus meminta lampiran tercetak dan dijilid terpisah, ikuti ketentuan itu. Menggabungkan lampiran ke dalam satu berkas digital justru menyimpang dari permintaan.
Kalau bahan lampiran memuat data pribadi lengkap dan aturan lembaga melarangnya keluar dari jaringan, kerjakan dengan aplikasi di komputer sendiri. Berkas di layanan ini dialirkan ke pemroses dan hasilnya dikirim balik ke peramban tanpa ditulis ke penyimpanan permanen, tetapi berkas tetap meninggalkan perangkat selama proses berlangsung. Keterangannya ada di kebijakan privasi.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah lampiran dihitung dalam batas jumlah halaman skripsi? Ketentuan itu ditetapkan kampus. Sebagian pedoman menghitung lampiran di luar batas, sebagian lain tidak. Baca pedoman resminya.
Bolehkah lampiran memuat foto berwarna? Tergantung pedoman dan jenis penelitiannya. Foto berwarna berguna untuk dokumentasi, tetapi membuat berkas lebih besar. Ikuti ketentuan kampus dan pertimbangkan ukurannya.
Apakah lampiran perlu tanda tangan? Kalau format lampiran yang ditetapkan kampus memuat kolom tanda tangan, ikuti. Kalau tidak, lampiran tidak perlu ditandatangani.
Bagaimana kalau satu lampiran harus diganti setelah skripsi digabung? Perbaiki berkas sumber lampiran itu, ekspor ulang, lalu ulangi penggabungan. Menambal berkas hasil lebih berisiko daripada mengulang proses yang singkat.
Apakah nomor lampiran harus muncul di daftar isi? Sebagian pedoman mencantumkannya, sebagian tidak. Periksa ketentuan kampus sebelum memperbarui daftar isi.
Menyatukan lampiran ke skripsi
Kumpulkan bahan, urutkan sesuai pedoman, beri nomor yang cocok dengan rujukan, ekspor setiap bagian ke PDF, lalu satukan semuanya lewat Gabung PDF. Periksa hasilnya halaman per halaman. Kalau perlu menggabungkan berkas akademik lain, langkahnya dijelaskan di cara menggabungkan ijazah dan transkrip. Peta seluruh pekerjaan berkas pendidikan ada di Dokumen Pendidikan, dan panduan tingkat pilar ada di Panduan Dokumen.