Gambar untuk WordPress sebaiknya dikecilkan sebelum diunggah, bukan sesudah. Alasannya, WordPress membuat beberapa ukuran turunan dari setiap gambar yang masuk, tetapi berkas aslinya tetap tersimpan. Kalau berkas aslinya besar, ukuran itu ikut memakan ruang hosting dan ikut terkirim ke pengunjung yang membuka gambar penuh. Karena itu, rapikan berkasnya lebih dulu lewat Kompres Foto, baru unggah ke pustaka media.

Urutannya juga berpengaruh pada mutu. Menurunkan mutu di luar WordPress, pada berkas yang masih asli, memberi Anda kendali penuh dan hasil yang bisa diperiksa sebelum diunggah. Sebaliknya, plugin optimasi yang bekerja di dalam WordPress biasanya memproses berkas yang sudah tersimpan, dan Anda tidak selalu bisa melihat hasilnya sebelum halaman dibuka pengunjung.

Bagian yang tidak bisa dikerjakan tool berkas: mengatur ukuran tampil di tema, memilih gambar unggulan, dan mengisi teks alternatif. Tiga hal itu diatur dari panel WordPress, dan masing-masing berpengaruh pada tampilan halaman.

Kenapa ukuran turunan tidak menghilangkan kebutuhan kompresi

WordPress umumnya membuat beberapa ukuran turunan dari satu gambar yang diunggah, dan tema memakai ukuran yang sesuai dengan tempat tampilnya. Apa yang benar-benar dibuat bergantung versi dan plugin di situs Anda, jadi periksa pengaturan pustaka media atau dokumentasi resmi WordPress untuk memastikannya.

Yang perlu diingat, mengandalkan ukuran turunan saja tidak cukup. Berkas asli yang diunggah tetap menjadi bahan dasar semua turunan, dan berkas yang berat membuat pekerjaan pemrosesan lebih besar daripada kebutuhan. Menyesuaikan dimensi sebelum unggah tetap langkah yang paling berguna.

Karena itu, langkah yang paling berguna adalah menyesuaikan dimensi berkas sebelum unggah. Kalau gambar akan tampil maksimal selebar 1200 piksel, tidak perlu menyimpan 4000 piksel.

Menentukan lebar gambar untuk tema Anda

Lebar yang tepat bergantung pada tema yang dipakai. Ada tema yang memakai kolom konten sempit, ada yang memakai lebar penuh. Untuk mengetahuinya, buka salah satu halaman artikel di situs Anda dan perhatikan lebar area konten pada layar besar. Sediakan gambar dengan lebar minimal sebesar angka itu. Versi dua kali ukuran tampil berguna pada gambar utama untuk layar berkerapatan tinggi, tetapi tidak wajib untuk gambar pendukung.

Satu kebiasaan yang menghemat waktu: tentukan tiga lebar baku untuk situs Anda, yaitu gambar penuh, gambar di dalam artikel, dan thumbnail. Setelah baku itu ada, setiap gambar baru cukup disesuaikan ke salah satunya.

Memilih format untuk WordPress

JPG adalah pilihan paling aman untuk foto. Ukurannya kecil, dan WordPress bisa membacanya tanpa masalah. PNG dipakai untuk logo, ikon, tangkapan layar, dan gambar yang butuh latar tembus pandang, dengan catatan ukurannya jauh lebih besar untuk foto.

WebP adalah format yang paling ringan pada mutu yang sama, dan WordPress versi baru bisa menerima unggahan WebP. Namun, ada dua hal yang perlu diperiksa. Pertama, tema atau plugin lama mungkin belum menangani WebP dengan benar, misalnya gambar tidak muncul di halaman tertentu. Kedua, pengunjung yang menyimpan gambar untuk dipakai di aplikasi lama bisa kesulitan membukanya. Kalau ragu, unggah JPG untuk foto dan PNG untuk elemen grafis. Perbandingan sifat ketiganya ada di Perbedaan JPG PNG dan WebP, dan konversinya dikerjakan di Konversi Format Gambar. Ketentuan unggahan WordPress bisa berubah, jadi periksa pusat bantuan resminya kalau ada format yang tidak diterima.

Nama berkas dan teks alternatif

Nama berkas ikut terbaca mesin dan manusia. Nama seperti cara-membuat-kopi-susu.jpg lebih berguna daripada IMG_4821.jpg, terutama saat pustaka media Anda sudah berisi ratusan gambar. Nama yang deskriptif juga memudahkan Anda menemukan gambar itu lagi saat akan dipakai ulang. Hindari spasi pada nama berkas, dan ganti dengan tanda hubung, karena tautan gambar yang memuat spasi lebih mudah rusak saat disalin.

Teks alternatif diisi saat gambar dimasukkan ke halaman. Isinya menjelaskan isi gambar untuk pembaca yang tidak bisa melihatnya, dan untuk mesin yang membaca halaman. Tulis deskripsi singkat, bukan pengulangan judul artikel. Kalau gambar itu murni hiasan tanpa makna, kolom teks alternatif boleh dibiarkan kosong. Cantumkan juga dimensi gambar saat menyisipkannya, karena atribut lebar dan tinggi membantu halaman menyediakan ruang sebelum gambarnya selesai dimuat.

Langkah menyiapkan gambar untuk WordPress

  1. Kumpulkan gambar yang akan diunggah, dan simpan salinan aslinya di luar WordPress.
  2. Tentukan lebar target sesuai tempat pemakaiannya: gambar penuh, gambar dalam artikel, atau thumbnail.
  3. Pilih tool sesuai format berkas di Kompres Foto: Kompres JPG, Kompres PNG, atau Kompres WebP.
  4. Unggah beberapa berkas sekaligus. Hasilnya dikemas dalam arsip ZIP kalau lebih dari satu.
  5. Pilih ukuran akhir lewat chip di pratinjau. Ukuran persen tersedia dari 10 sampai 200 persen. Pada uji coba, persen 50 pada gambar 1600x1200 menghasilkan 800x600.
  6. Periksa pratinjau pada bagian yang paling penting: wajah, tulisan pada gambar, atau detail produk.
  7. Unduh hasilnya, ganti nama berkasnya menjadi deskriptif, lalu unggah ke pustaka media.
  8. Setelah gambar masuk halaman, isi teks alternatif dan periksa tampilannya di layar ponsel.

Kalau formatnya perlu diubah lebih dulu, kerjakan konversinya sebelum kompresi supaya mutunya tidak turun dua kali.

Soal plugin optimasi

Banyak situs WordPress memakai plugin yang mengurus ukuran dan format gambar secara otomatis. Kalau situs Anda sudah punya plugin seperti itu, tetap mengecilkan berkas sebelum diunggah tidak ada salahnya. Plugin bekerja pada berkas yang sudah tersimpan, dan berkas asli yang wajar membuat pekerjaannya lebih ringan.

Yang perlu diperiksa kalau memakai plugin: apakah berkas aslinya diganti atau hanya versi turunannya, dan apakah ada salinan cadangan. Kalau tidak ada salinan, berkas asli di komputer Anda menjadi satu-satunya rujukan.

Kalau plugin sudah menangani semuanya dengan baik dan halaman Anda cepat, tidak ada yang perlu diubah.

Kesalahan yang sering terjadi

Mengunggah foto kamera langsung ke pustaka media. Foto ponsel berukuran jauh lebih besar daripada kebutuhan halaman, dan berkas aslinya ikut tersimpan di hosting.

Memakai PNG untuk foto. Ukurannya jauh lebih besar tanpa keuntungan yang sepadan, dan halaman jadi lebih berat.

Mengompres berkali-kali. Kalau hasil pertama kurang pas, ulangi dari berkas asli, bukan dari hasil kompres pertama.

Menaruh gambar yang sangat besar di bagian atas halaman. Gambar itu menahan tampilan pertama, dan pengunjung dari jaringan seluler paling merasakannya.

Mengganti gambar tanpa memperbarui nama berkasnya. Cache bisa menyajikan versi lama. Alur penggantian yang aman dibahas di cara mengganti gambar website tanpa error.

Kapan tidak perlu menyentuh berkasnya

Kalau gambar Anda sudah berukuran wajar untuk tempat pemakaiannya dan halaman memuatnya dengan cepat, tidak ada yang perlu diubah. Kalau situs Anda punya alur otomatis yang menangani ukuran dan format dengan baik, berkas asli yang wajar bisa langsung diunggah.

Kalau gambar akan dicetak, jangan turunkan dimensinya. Cetakan memerlukan piksel lebih banyak daripada layar, dan gambar yang cukup untuk halaman web bisa terlihat kasar saat dicetak besar.

Kalau gambar berisi data pribadi yang tidak boleh meninggalkan perangkat, kerjakan penyesuaiannya dengan aplikasi di komputer sendiri. Selengkapnya soal perlakuan berkas ada di kebijakan privasi.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah WordPress mengecilkan gambar secara otomatis? WordPress membuat beberapa ukuran turunan, tetapi berkas aslinya tetap tersimpan. Kalau aslinya besar, ukuran turunannya juga dibuat dari bahan yang lebih berat daripada kebutuhan, dan ruang hosting tetap terpakai.

Berapa lebar gambar yang ideal untuk WordPress? Tergantung tema dan tempat pemakaiannya. Amati lebar wadah di halaman Anda, lalu siapkan piksel minimal sebesar angka itu. Gambar yang tampil penuh sebaiknya punya versi lebih besar untuk layar lebar.

Apakah WebP aman diunggah ke WordPress? Versi WordPress yang baru bisa menerimanya. Yang perlu diperiksa, apakah tema dan plugin Anda menanganinya dengan benar, dan apakah ada pengunjung yang membutuhkan JPG. Kalau ada keraguan, JPG untuk foto dan PNG untuk elemen grafis adalah pilihan yang aman.

Apakah gambar lama yang sudah terunggah perlu dikompres ulang? Kalau halaman Anda cepat dan ukurannya wajar, tidak perlu. Kalau halaman terasa lambat karena gambar, pilih gambar yang paling berat, kecilkan dari berkas asli, lalu ganti berkasnya dengan mengikuti langkah di cara mengganti gambar website tanpa error.

Apakah gambar unggulan butuh ukuran berbeda dari gambar di dalam artikel? Biasanya ya. Gambar unggulan tampil lebih besar, jadi sediakan lebar yang cukup untuk tempat terbesarnya. Gambar di dalam artikel bisa mengikuti lebar kolom tulisan.

Mulai dari gambar terbesar di situs Anda

Kalau situs WordPress Anda terasa lambat, mulai dari gambar terbesar: buka kompres gambar, kecilkan dimensinya, lalu periksa hasilnya di halaman. Kalau formatnya perlu diubah ke WebP, lanjutkan ke Konversi Format Gambar. Pekerjaan penyajian gambar yang lebih luas ada di Gambar untuk Web, dan panduan besarnya di Panduan Gambar dan Foto.